25 – 27 May 2011 | Yogyakarta
7 – 9 Sep 2011 | Bandung
Course Overview
Pada awalnya (1940 - 1960) pelaksanaan K3 hanya terfokus kepada pengoperasian perangkat keras (hardware) dengan aman, seperti pemasangan alat pengaman/pelindung pada mesin, penempatan pagar pengaman pada tempat yang berbahaya dan sebagainya. Namun tingkat kecelakaan hanya bisa turun pada level tertentu, setelah itu mendatar dan tidak mampu lagi turun.
Selanjutnya sekitar tahun 1960 – 1985, fokus pelaksanaan K3 berkembang tidak saja kepada perangkat keras, tapi juga difokuskan kepada pekerja (employee), seperti seleksi kompetensi, pelatihan K3 dan sebagainya. Dampaknya, terjadi penurunan tingkat kecelakaan tapi hanya sampai pada level tertentu, kemudian mendatar lagi.
Kemudian pada awal tahun 1990s fokus pelaksanaan K3 berkembang melalui pendekatan dengan keterlibatan langsung manajemen perusahan melalui konsep Sistem Manajemen K3, namun kejadian kecelakaan masih terjadi dengan tingkat yang berfluktuasi, walaupun dapat mencapai nihil kecelakaan kerja.
Pada awal tahun 2000s, konsep pelaksanaan K3 berkembang lagi untuk mendukung konsep pelaksanaan K3 lainnya yaitu melalui pendekatan perilaku aman (behavior safety). Data statistik mengungkapkan bahwa lebih dari 85% penyebab kecelakaan disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak aman (unsafe human behavior). Karena itu kunci dari pelaksanaan K3 harus diarahkan untuk merubah perilaku manusia tidak aman melalui pendekatan konsep Behavior Based Safety (BBS).
Sehingga keberadaan BBS dalam perusahaan akan membentuk perilaku manajemen dan pekerja untuk mengambil keputusan dan bertindak.
Course Objectives
Setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu :
Course Content
Course Leader
Nasrul Sjarief, SE. ME





